Jumat, 08 Juli 2011

Bunga Terakhir

         Udara Bandung pagi itu, semakin lama semakin terasa dingin. Hal ini membuat Purnama, cewek tunanetra ini kedinginan. Tetapi,tiba-tiba sebuah sweater telah melekat tepat di bahunya.Cewek cantik itu pun kaget. ia benar-benar bingung. Pikirannya menjadi gusar. Ia berusaha mencari-cari sumber suara. Tetapi, ia tak mendengar apapun. Hatinya gundah,ia mencoba mengingat sesuatu. Hingga sebuah sentuhan lembut mampu menenangkannya.
          Purnama tersenyum. Seakan-akan ia tahu akan seseorang itu.
          "Reza..." Ucapan Purnama ternyata benar. Cowok yang sejak kecil selalu menemaninya baik dalam suka maupun duka. Reza yang mengendap-endap jadi duduk di sebelahnya.
          "Kamu selalu saja tahu kedatanganku. Padahal aku sudah tidak bersuara."
          "Rez, aku memang tidak bisa melihat,tetapi aku bisa merasakan kalau itu kamu dengan hati nuraniku"
          "ya..ya..ku akui kamu memang hebat. Hebat dalam menipuku." ucapnya seraya tertawa mengejek.
          "aku tidak menipu. Hanya mengutip saja dari radio. jadi, bisa dikatakan aku serius agar tidak mudah untuk dirayu cowok seperti kamu
          " kamu ini...."
          "tertipu. 1-0" ucapnya sambil terus mencubit lengan Reza.
          Tawa mereka pun semakin lepas hingga...
          "Purnama aku akan pergi." Tiba-tiba ucapan itu membuat senyum di bibir purnama memudar.
ia seakan-akan merasa takut. tapi. hanya diam yang mampu ia lakukan.
          " Jadi kamu jangan mencariku ya, kamu juga jangan menungguku. Biarkan aku saja yang menemuimu. aku hanya tidak ingin kamu khawatir."
          "Sebenarnya kamu mau kemana ? aku boleh ikut ?"
          "entahlah aku juga tidak tahu akan kemana q.tapi kamu harus yakin satu hal kalau aku pasti kan mengunjungimu.  ".Tak terasa air mata Reza jatuh membasahi pipi. ia tidak tega jika melihat Purnama seperti itu. Purnama mengangguk meskipun hatinya perih.
           "Aku pasti merindukanmu purnama." ucap Reza lirih.
           " Aku juga, tapi aku senang karena kamu akhirnya bisa sembuh.Bukankah ini impian kita. O..iya, kata dokter aku juga punya harapan sembuh. Kata dokter,sudah ada yang bersedia mendonorkan matanya untukku . Orang itu baik ya. Memberikan kesempatan untukku untuk melihat dunia. Reza kamu datang ya pada operasi pertama ku nanti. Karena orang yang ingin ku lihat setelah orang tuaku adalah kamu."
           "Oke. Pasti." senyuman purnama semakin melebar. ia sudah tidak sabar menunggu hari itu. Reza menggenggam tangan Purnama erat-erat agar ia bisa selalu merindukannya.
            Tak terasa hari yang akan mengubah hidupnya tiba juga. Purnama tampak lebih siap untuk menghadapinya. Purnama tak menyadari bahwa ada sebuah tatapan pilu dari balik kaca ruang ICU. ia terlihat sangat sedih. Bahkan tangannya berusaha menggapai,meski ia tahu itu tak mungkin.Sehingga Reza pun pergi.
             4jam telah berlalu dan operasi itu pun usai dengan hasil yang memuaskan. Untuk menunggu purnama siuman, ia ditempatkan di kamar reguler. Dari hari ke hari, keadaan purnama semakin membaik dan mungkin inilah detik-detik terindah dalam hidupnya. saat dimana dia sudah bisa melihat dunia, ibunya dan juga Reza.
             "Nah, Purnama sekarang bukalah matamu perlahan-lahan."







 






            

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar